Showing posts with label Epinephelinae. Show all posts
Showing posts with label Epinephelinae. Show all posts

Monday, April 10, 2017

Variola louti

Serranidae
Geurape cabeung
Yellow-edged lyretail
Variola louti
Panjang maksimum : 81cm
Persebaran : Dari Sumatera barat daya ke Timor; termasuk Flores dan Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Manado dan sekitarnya, Pulau Sangalakki, Togean dan Kepulauan Banggai dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini mungkin tidak dijual di Mauritius karena kasus keracunan ciguatera.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuarium (komersil), dijual secara hidup di pasar ikan Hong Kong.
Status konservasi : LC (Least Concern)

Biasa ditemukan di perairan jernih pada kedalaman dibawah 15m, lebih memilih habitat sekitar kepulauan dan terumbu jauh dari pesisiran daripada pesisiran kontinen. Memangsa terutama pad aikan, udang dan stomatapoda.

Kekuningan-coklat hingga oranye-merah dengan banyak bintik-bintik merah, merah muda atau lembayung muda dan garis-garis pendek, pinggiran posterior sirip ekor, anal dan dorsal kuning. Ikan muda berwarna coklat muda di punggungnya, putih pada setengah bagian bawah tubunya, garis hitam tebal dari mata hingga bagian bawah posterior sirip dorsalnya, bercak hitam besar pada bagian atas dasar sirip ekor.

Foto 1 : Photo courtesy Joey Jojo
Foto 2 : Photo courtesy Ular Tikk

Variola albimarginata

Serranidae
Geurape cabeung 
White-edged lyretail
Variola albimarginata
Panjang maksimum : 60cm
Persebaran : Dari Selat Bali ke Laut Timor; termasuk Flores dan Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Manado dan sekitarnya, Pulau Sangalakki, Togean dan Kepulauan Banggai dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), daging ikan ini memiliki rasa yang enak.
Status konservasi : LC (Least Concern)

Ikan muda hidup dekat pesisiran, dekat habitat berganggang dan terumbu berkarang lunak, biasa benerang cukup tinggi di atas dasar laut pada kedalaman 4 hingga 200m, terlihat seperti seekor ikan basslet Ditemukan dalam kelompok kecil. Memangsa pada ikan. Hidup soliter.

Biasa kemerahan dengan bintik-bintik biru pada kepala,tubuh dan sirip, ujung sirip ekor berpinggiran putih dan kadang dengan 3 - 4 bercak berbentuk pelana pucat pada punggungnya yang terlihat seperti berdifusi.

Foto 1 ; Photo courtesy Benoit LALLEMENT
Foto 2 : Photo courtesy zsispeo

Gracila albomarginata

Serranidae
Kiapu bandoka
Masked grouper
Gracila albomarginata
Panjang maksimum : 40cm
Persebaran : Diketahui dari Flores dan Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Manado dan sekitarnya, Sangalakki Island dan Togean dan Kepulauan Banggai; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil).
Status konservasi : DD (Data deficient)

Ikan ini merupakan perenang yang aktif, ditemukan di lereng terumbu luar dan kanal pada perairan dalam dari kedalaman 15 hingga 120m. Mengambang di atas dasar laut dan memangsa terutama pada ikan. Ikan ini tidak umum ditemukan dan biasa soliter, namun pernah ditemukan dalam kelompok terdiri dari 3 atau 4 ikan.

Garis-garis diagonal gelap pada kepala, bercak putih bentuk kotak pada bagian posterior bagian atas, 16 hingga 20 garis-garis coklat atau kehitaman tipis pada sisi tubuhnya, bintik hitam di tengah dasar sirip ekornya. Ikan muda ungu dengan pinggiran merah terang pada pinggiran siirp dorsal, ekor dan analnya.

Foto 1 : Photo courtesy NOAA Photo Library
Foto 2 : Photo courtesy zsispeo
Foto 3 : Photo courtesy Turner Alchemy

Epinephelus tukula

Serranidae
Kiapu buntar tikolo
Potato grouper 
Epinephelus tukula
Panjang maksimum : 200cm
Persebaran : Direkam dari Bali dan Teluk Maumere. Juga tercatat dari Flores.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), dijual di pasar ikan hidup di Hong Kong.
Status konservasi : LC (Least Concern)

Salah satu kerapu terbesar. Hidup soliter. Biasa ditemukan di terumbu kanal dalam dan puncak terumbu, pada daerah rawan arus. Ikan muda dapat ditemukan di kolam batu dari kedalaman 5 hingga 150m. Memangsa pada ikan yang hidup di terumbu, ikan pari, kepiting dan lobster bercangkang keras. Diketahui bersifat sangat teritorial dan agresif terhadap penyusup / pendatang. Rawan ditombak oleh penombak. Dapat dikasih makan oleh tangan di beberapa daerah, namun dapat berpotensi bahaya bagi yang tidak berpengalaman.

Keabu-abuan pucat dengan bercak-bercak bulat atau oval berwarna abu-abu gelap atau kehitaman pada tubuh, kepala dengan garis-garis atau bercak abu-abu gelap dan bercak-bercak kecil coklat memancar dari matanya.

Foto 1 : Photo courtesy George Bouloukos
Foto 2 : Photo courtesy Cédric Péneau

Epinephelus tauvina

Serranidae
Bababo
Greasy grouper
Epinephelus tauvina
Panjang maksimum : 75cm
Persebaran : Direkam dari Maumere Bay dan Komodo; dengan distribusi Indonesia dari North Kalimantan Timur.
Bahaya terhadap manusia : Kadang dilaporkan ciguatoxic.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuakultur (komersil). Dijual di pasar ikan Hong Kong.
Status konservasi : DD (Data deficient)

Ikan dewasa menyukai perairan jernih pada terumbu karang, ikan muda dikoleksi dari dataran terumbu dan kolam batu, ikan dewasa ditemukan di perairan lebih dalam. Ikan soliter dan umum ditemukan di daerah yang dipancing dalam intensitas rignan. Ikan dewasa dari Oceania memangsa hampir hanya pada ikan (Holocentridae, mullidae dan pomacentridae), dan kadang krustasea. Penemuan ikan ini dengan ukuran lebih dari 80cm, merupakan misidentifikasi dari E. coioides, E. malabaricus dan E. lanceolatus; spesies tersebut menumbuh lebih besar dari E. tauvina.

Kehijauan pucat hingga coklat pucat, daerah ventral bergradasi hingga keputihan, dengan banyak bintik-bintik oranye-merah hingga coklat gelap pada kepala, tubuh dan siripnya. Mirip dengan E. corallicola, namun bintik-bintik kemerahan-coklat daripada kehitaman dan biasa lebih banyak. Ikan dibawah ukuran 20cm ,memiliki bintik-bintik dan pola pelana pada punggungnya lebih besar.

Foto 1 : Photo courtesy gaia_df
Foto 2 : Photo courtesy Rob

Epinephelus spilotoceps

Serranidae
Foursaddle grouper
Epinephelus spilotoceps
Panjang maksimum : 31cm
Persebaran : Direkam dari Kepulauan Raja Ampat dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil).
Status konservasi : LC (Least Concern)

Hidup di daerah laguna, atas lereng kanal dan pinggiran terumbu dari kedalaman 1 hingga 20m. Memangsa pada berbagai macam organisme kecil, seperti ikan. Tidak ada yang diketahui mengenai biologi ikan ini.

Kepala dan tubuh ditutupi oleh bintik-bintik coklat berbentuk heksagon berjarak dekat dengan warna putih pucat diantara jarak bintik-bintik tersebut, membentuk seperti pola jaringan.

Foto 1 : Photo courtesy Chalto
Foto 2 : Photo courtesy eunice khoo

Epinephelus rivulatus

Serranidae
Balang
Sixbar grouper
Epinephelus rivulatus
Panjang maksimum : 45cm
Persebaran :  Recorded from Bali; with an Indonesian distribution from Timor and Flores.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil)
Status konservasi : LC (Least Concern)

Ikan ini menetap di daerah dekat dengan karang. Menghuni terumbu karang, daerah dengan dasar berbatu, dataran ganggang dan padang rumput laut dari kedalaman 10 hingga 150m. Memangsa pada ikan dan krustasea. Hidup soliter.

Kepala merah-coklat, tubuh coklat-pucat berbintik, 5 hingga 6 garis coklat gelap tidak rata pada tubuhnya dan sirip ekor coklat gelap dengan bintik-bintik pucat.

Ikan ini merupakan hermafrodit. Membentuk agregasi berkawin.

Foto 1 : Photo courtesy Benjamin Naden
Foto 2 : Photo courtesy Jean-Marie GRADOT

Epinephelus quoyanus

Serranidae
Kiapu ngaluhu
Longfin grouper
Epinephelus quoyanus
Panjang maksimum : 38cm
Persebaran : Direkam dari Bali, Teluk Maumere, Komodo dan Pulau Bintan; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini telah dilaporkan ciguatoxic.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil).
Status konservasi : LC (Least Concern)

Menghuni terumbu pesisiran berlumpur, tidak pernah ditemukan dari kedalaman lebih dari 50m. Memangsa udang, ikan kecil, cacing dan kepiting. Sirip dada yang besar telah berkembang karena kebiasaan ikan ini yang sering beristirahat di dasar laut. Hidup soliter.

Keputihan dengan banyak pasang bintik-bintik heksagon hingga bulat coklat gelap hingga hitam pada kepala tubuh, Dibedakan dari E.merra dari garis coklat diagonal melewati dada dan pinggiran hitam tebal pada sirip anal.

Foto 1 : Photo courtesy divemecressi
Foto 2 : Photo courtesy Benjamin Naden

Epinephelus polyphekadion

Serranidae
Kiapu ngaluhu 
Camouflage grouper 
Epinephelus polyphekadion
Panjang maksimum : 75cm
Persebaran : Diketahui dari Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Bali, Teluk Maumere, Komodo, Manado dan sekitarnya, Sangalakki Island, Togean dan Kepulauan Banggai dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini telah dilaporkan sebagai ciguatoxic, khususnya di Kepulauan Marshall. 
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuakultur (masih dalam tahap percobaan)
Status konservasi : NT (Near threatened)

Biasa ditemukan di daerah kaya dengan karang di laguna dan terumbu luar; di dalam goa dan celah-celah besar yang dapat dilewati oleh ikannya. paling sering ditemukan sekitar kepulauan dan atol. Biasa ditemukan dalam gerombolan kecil. Memangsa terutama pada krustasea dan ikan, kadang kepada cephalopoda dan gastropoda.

Coklat pucat dengan banyak bintik-bintik coklat gelap kecil menutupi kepala, tubuh dan siirpnya; setengah bagian atas tubuhnya keputihan dengan bercak-bercak gelap besar dan bercak pelana pada dasar sirip ekornya.

Foto 1 : Photo courtesy Jeremy
Foto 2 : Photo courtesy Simone Carletti

Epinephelus ongus

Serranidae
Specklefin grouper /  White-streaked grouper
Epinephelus ongus
Panjang maksimum : 31cm
Persebaran : Diketahui dari Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Bali, Teluk Maumere, Komodo, Pulau Seribu dan Togean dan Kepulauan Banggai; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil).
Status konservasi : LC (Least Concern)

Menghuni terumbu laguna dan pesisiran, juga hidup di perairan payau dimana ikan ini hidup di lereng dan goa dari kedalaman 5 hingga 25m. Memangsa pada krustasea dan ikan kecil. Ikan dewasa biasa di kedalaman lebih dari 20m. Hidup soliter.

Coklat dengan bercak putih besar dan banyak bintik-bintik putih pucat kecil pada kepala, tubuh dan sirip yang berbentuk memanjang pada ikan lebih besar dari 10cm. Ikan muda coklat gelap dengan bintik-bintik putih pada kepala, tubuh dan sirip.

Foto 1 :Photo courtesy Benoit LALLEMENT
Foto 2 : Photo courtesy zsispeo
Foto 3 : Photo courtesy Bernard DUPONT

Epinephelus merra

Serranidae
Geurape musang
Honeycomb grouper
Epinephelus merra
Panjang maksimum : 32cm
Persebaran : Diketahui dari Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Bali, Teluk Maumere, Komodo, Pulau Seribu dan Togean dan Kepulauan Banggai ; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Tulang opercular atau alur kelenjar anterolateral dengan adanya kelenjar racun.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuarium (komersil) Dibudidayakan di bawah kondisi percobaan di Filipina
Status konservasi : LC (Least Concern)

Sangat umum ditemukan di laguna dangkal dan terumbu menuju laut agak terlindung dari kedalaman 1 hingga 50m, seringkali di kedalaman kurang dari 20m. Ikan muda umum ditemukan di daerah karang bercabang (Acropora). Memangsa pada krustasea dan ikan. Pilihan mangsa menjadi lebih mengutamakan ikan semakin tua ikannya. Hidup soliter.

Kepala, tubuh dan sirip diselimuti oleh pola bintik-bintik coklat gelap hingga kemerahan coklat berjarak dekat, kadang dengan pola jaringan diantara bintik-bintik tersebut.

Photo courtesy zsispeo
Photo courtesy zsispeo
Photo courtesy Macy Anonuevo

Epinephelus maculatus

Serranidae
Kiapu nyarengkeh 
Highfin grouper
Epinephelus maculatus
Panjang maksimum : 60cm
Persebaran : Dari Selat Bali ke Laut Timor; termasuk Flores. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Manado dan sekitarnya dan Pulau Sangalakki; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Jawa dan Kalimantan.
Bahaya terhadap manusia : Di beberapa daerah ikan ini dapat ciguatoxic.
Penggunaan komersil : Perikanan (minor), Akuarium (akuarium publik). Sering dijual secara hidup di Hong Kong.
Status konservasi : LC (Least Concern)

Ikan muda ditemukan di terumbu berbatu dangkal, ikan dewasa hidup di kepala karang di laguna dan terumbu menuju laut hingga dari kedalaman 2 hingga 100m. Memangsa terutama pada ikan dan krustasea yang hidup di habitat berpasir, kadang memangsa pada gurita. Hidup soliter, sering ditemukan di daerah pasir terbuka dan dasar terumbu.

Coklat dengan serangkaian bintik-bintik coklat berbentuk poligon dan sepasang bercak berbentuk pelana pada jidat dan posterior sirip punggungnya.

Photo courtesy Doug Anderson
Photo courtesy Benjamin Naden
Photo courtesy Benjamin Naden

Epinephelus melanostigma

Serranidae
One-blotch grouper / Black-spot grouper
Epinephelus melanostigma
Panjang maksimum : 33cm
Persebaran : Direkam dari Kepulauan Raja Ampat, Bali dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera, Sumbawa dan Kepulauan Raja Ampat.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil). Karena ukuran kecil dan keberadaannya jarang ditemukan, ikan ini tidak memiliki banyak kegunaan komersil bagi manusia.
Status konservasi : DD (Data deficient)

Menghuni dataran terumbu luar dan laguna dangkal. Diketahui ditangkap oleh jaring kapal besar, pada kedalaman lebih dalam dari 7m. Juga menghuni terumbu pada kedalaman sekitar 30m. Hidup soliter.

Banyak pasang bintik-bintik coklat gelap berbentuk poligon pada kepala, tubuh dan siripnya. Mirip dengan E.hexagonatus dan E.spilotoceps, namun dibedakan oleh pola pelana di posterior sirip dorsalnya.

Membentuk kelompok harem yang terdiri dari ikan jantan dominan dan 2 hingga 12 ekor betina. Kelompok tersebut dapat menempati wilayah sebesar 475 meter persegi yang terbagi menjadi wilayah-wilayah kecil dan dijaga oleh seekor betina.

Foto 1 : Photo courtesy Benjamin Naden
Foto 2 : Photo courtesy Turner Alchemy

Epinephelus malabaricus

Serranidae
Kerapu lumpar
Malabar grouper
Epinephelus malabaricus
Panjang maksimum : 100cm
Persebaran : Direkam dari Bali dan Pulau Bintan; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuakultur(komersil). Banyak digunakan dalam budidaya terutama di Timur Jauh.
Status konservasi : NT (Near threatened)

Sebuah spesies yang umum ditemukan, dapat dijumpai di berbagai macam habitat, karang, terumbu berbatu, kolam batu, muara, hutan bakau dan daerah berdasar lumpur atau pasir dari pesisiran hingga kedalaman 150m. Hidup soltier. Ikan muda ditemukan dekat pesisiran dan muara, Memangsa terutama pada ikan dan krustasea dan kadang-kadang ke cephalopoda. .

Abu-abu muda hingga coklat-kekuningan dengan lima garis-garis coklat gelap sedikit miring, yang kadang berbagi menjadi dua cabang pada daerah ventral, kepala dan tubuh berbintik hitam kecil dan bercak dan bintik putih tersebar.

Perubahan jenis kelamin mungkin; Statistik jarang mendata tangakapan ikan ini yang sebelumnya bingung dengan E. andersoni


Epinephelus macrospilos

Serranidae
Snubnose grouper
Epinephelus macrospilos
Panjang maksimum : 45cm
Persebaran : Direkam dari Kepulauan Raja Ampat, Togean dan Kepulauan  Banggai dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil)
Status konservasi : LC (Least Concern)

Ditemukan di laguna dan terumbu berarah ke laut hingga kedalaman 44m; termasuk lereng terumbu luar. Lebih sering ditemukan pada terumbu samudera dan jarang ditemukan pada terumbu pesisiran. Memagnsa pada krustasea (terutama kepiting), ikan, gurita kecil dan cumi. Hidup soliter.

Keabu-abuan pucat dengan bintik-bintik coklat gelap hingga oranye-coklat berukuran tidak rata pada kepala, tubuh dan siirp, pinggiran putih hingga kekuningan pada sirip dorsal, anal dan ekor, bercak putih pada bagian bawah kepala dan dada, seringkali dengan 3 hingga 4 bercak sepanjang punggungnya (khususnya pada ikan remaja).

Membentuk kelompok harem yang terdiri dari ikan jantan dominan dan 2 hingga 12 ekor betina. Kelompok tersebut dapat menempati wilayah sebesar 475 meter persegi yang terbagi menjadi wilayah-wilayah kecil dan dijaga oleh seekor betina.

Foto 1 : Photo courtesy Brian Gortney
Foto 2 : Photo courtesy NOAA Photo Library

Epinephelus hexagonatus

Serranidae
Star-spotted grouper
Epinephelus hexagonatus
Panjang maksimum : 26cm
Persebaran : Direkam dari Teluk Maumere, Komodo dan Kepulauan Togean dan Banggai; Dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatra. Juga tercatat dari Flores dan Banda
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (minor).
Status konservasi : LC (Least Concern)

Sering ditemukan di daerah terumbu luar yang terbuka, pada perairan cukup dangkaldari kedalaman 1 hingga 10m. Ikan ini memiliki kamuflause yang sangat baik, hidup soliter. Memangsa terutama pada ikan dan krustasea (stomatapoda dan kepiting).

Kepala dan tubuh diselimuti oleh pola bintik-bintik heksagon coklat, segitiga-segitiga putih menyolok pada setiap pojokan bintik coklat tersebut, dan gerombolan bintik-bintik sepanjang punggung dan daerah abdomennya, sering membentuk bercak-bercak hitam / gelap.

Foto 1 : Photo courtesy Glen Engel-Cox
Foto 2 : Photo courtesy eunice khoo

Epinephelus fuscoguttatus

Serranidae
Kerapu macan
Brown-marbled grouper
Epinephelus fuscoguttatus
Panjang maksimum : 100cm
Persebaran : Direkam dari Kepulauan Raja Ampat, Bali, Teluk Maumere, Komodo, Manado dan sekitarnya, Pulau Seribu dan Pulau Sangalakki ; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuakultur (komersil). Pemancing Palau nelayan Palau memanjang tali pancing mereka dan tembakan tombak yang mereka tangkap melalui pengetahuan tentang siklus reproduksi remochel, salah satu spesies yang paling penting di daerah Palau sebagai ikan makanan. Dibudidayakan pada kondisi percobaan di Filipina; calon budidaya di Singapura. Di Hong Kong dijual secara hidup di pasar ikan.
Status konservasi : NT (Near threatened)

Menghuni puncak laguna, kanal dan lereng terumbu luar berdaerah kaya dengan karang di perairan jernih dari kedalaman 1 hingga 60m. Ikan muda hidup di padang rumput laut. Memangsa pada ikan, kepiting dan cephalopoda. Terutama aktif pada senja.

Kekuningan-coklat pucat dengan 5 serangkaian garis vertikal terdiri dari bercak-bercak tidak jelas, banyak bintik-bintik coklat kecil berjarak dekat dengan intensitas bervariasi pada kepala, tubuh dan siripya, serta sebuah pola pelana pada dasar sirip ekornya.

Photo courtesy danielguip
Photo courtesy eunice khoo

Epinephelus flavocaeruleus

Serranidae
Geurape Kueneg
Blue and yellow grouper
Epinephelus flavocaeruleus
Panjang maksimum : 80cm
Persebaran : Diketahui dari Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Bali, Teluk Maumere, Komodo, Manado dan sekitarnya, Sangalakki Island, Togean dan Kepulauan Banggai dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuarium (komersil)
Status konservasi : LC (Least Concern)

Ikan muda menghuni terumbu dangkal sementara ikan dewasa ditemukan pada terumbu dalam. Memangsa pada berbagai macam ikan, kepiting, udang, lobster, cumi dan gurita kecil. Hidup soliter. Menghuni daerah terumbu pada daerah berpasir di kedalaman 10 hingga 150m.

Kepala dan tubuh warna biru langit ikan muda) hingga violet kebiruan gelap atau biru keabu-abuan gelap dengan sirip dan bagian atas bibirnya kuning, yang menjadi tambah gelap semakin tua ikannya.

Foto 1 : Photo courtesy Cédric Péneau
Foto 2 : Seekor individu sedang menelan seekor ikan buntel (Photo courtesy Cédric Péneau)

Epinephelus fasciatus

Serranidae
Geurape bungong kala
Blacktip grouper
Epinephelus fasciatus
Panjang maksimum : 36cm
Persebaran : Diketahui dari Kepulauan Mentawai. Juga tercatat dari Kepulauan Raja Ampat, Bali, Teluk Maumere, Komodo, Manado dan sekitarnya, Pulau Seribu, Pulau Bintan, Pulau Sangalakki, Togean dan Kepulauan Banggai dan Pulau Weh; dengan distribusi Indonesia dari Papua ke Sumatera.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (komersil), Akuarium (komersil), merupakan jenis ikan target pancingan.
Status konservasi : LC (Least Concern)

Umum ditemukan pada lereng terumbu luar pada kedalamna dibawah 15m. juga ditemukan di teluk terlindung, dan laguna sedangkal 4m. Juga dapat ditemukan hingga kedalaman 160m. Di Madagaskar ikan ini mencari mangsa berbagai macam kepiting, udang dan ikan pada siang dari malam hari  Pada perairan Kenya ikan ini memangsa pada kepiting, stomatapoda, ikan, bintang laut lunak dan gurita. Di laut merah, mangsa terutama ikan dan beberapa krustasea (terutama kepiting).

Warna bervariasi dari kehijauan-abu-abu pucat hingga kemerahan-kuning pucat atau merah muda (seringkali dengan 5 hingga 6 garis hitam, intensitas warna bervariasi, dan bagian atas kepala kemerahan-coklat

Foto 1 : Photo courtesy DavidR
Foto 2 : Photo courtesy Benjamin Naden
Foto 3 : Photo courtesy Plongez-Pépère

Epinephelus erythrurus

Serranidae
Cloudy grouper
Epinephelus erythrurus
Panjang maksimum : 43cm
Persebaran : Direkam dari Indonesia ke Sulawesi dan Jawa. Telah ditemukan di Jawa, Pasar Batavia, Pulau Sangi. Borneo, Kalimantan, Pelabuhan Balikpapan, Sabah, Kalimantan Utara.
Bahaya terhadap manusia : Ikan ini tidak berbahaya bagi manusia.
Penggunaan komersil : Perikanan (minor)
Status konservasi : DD (Data deficient)

Menghuni daerah berdasar lumpur atau pasir berlumpur. Sering dijaring. TIdak ada yang diketahui mengenai hidup dan kebiasaannya di alam liar. Individu berukuran 16.3cm telah ditemukan memiliki idnung telur matang. Hidup soliter, ditemukan di dekat pelabuhan keruh dan muara pada kedalaman 1 hingga 20m.

Abu-abu gelap dengan bintik-bintik pucat tidak jelas dan bercak-bercak tersusun secara acak yang bergebung untuk membentuk pola labirin.

Photo courtesy alan duncan
Photo courtesy danielguip